Minang di Pandangan Nusantara

Sabtu, 15 Juli 2017
00:43 AM

Saat ini terbesit di hati saya untuk menulis sesuatu, yang telah menimbulkan konflik antara hati dan pikiran : merantau.

Saya terlahir di sebuah keluarga bersuku minang. Ayah dan Ibu saya adalah orang minang yang sejak lahir tinggal di tanah perantauan, Pekanbaru. Sudah menjadi wacana umum jikalau penduduk di Sumatera Barat yang lebih dari 90% penduduknya adalah suku minang, suku yang memiliki tradisi merantau disaat menginjak usia dewasa ( umur > 14 tahun). Merantau adalah tradisi yang mendarahdaging bagi suku minang. Suku minang juga terkenal dengan masakan khasnya yang mendunia, efek dari kebiasaan merantau tersebut. Biasanya orang minang di masa lampau (hingga saat ini) hobi berdagang komoditas sandang seperti kain, pecah belah, dan lain-lain. Di sektor pangan, tidak kalah penting. Suku minang terkenal dengan ” Bareh Solok Bareh Tanamo ” dan rumah makan alias ampera dan kapau nya yang menjamur hampir di seluruh Indonesia dan juga mancanegara. Bahkan ada sebuah intermezzo mengatakan :

“Jikalau diperbolehkan, barangkali ada saja orang minang yang buka rumah makan Padang di bulan”

Masakan Padang sempat menduduki peringkat 1 makanan terlezat di dunia melalui resep Randang yang fenomenal, racikan Bundo Kanduang minang. 

Namun disisi lain, ada satu statement yang sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat, khususnya masyarakat heterogen dengan keberagaman etnis budaya yang lumrah terjadi di perkotaan :

“Orang minang itu pelit-pelit. Mereka itu cerdik (dalam artian jelek). Jangan mau nikah sama orang minang !”

Bahkan orang minang terdahulu sendiri mengakui perihal tabiat mereka yang satu ini yang terkenal dengan pepatahnya :

“Terhimpit ingin diatas, terkurung ingin di luar”

Ya.. inti dari pepatah diatas adalah, kalau hidup itu harus pandai-pandai *waduh. Tabiat ini bisa jadi muncul karena asam garam kehidupan yang telah dilalui oleh orang minang si kaum perantau ini. Namun ini bukan berarti pembenaran diri bahwa sifat kikir dan licik itu diperbolehkan.

Bahkan, dalam pandangan Islam, membangga-banggakan suku sendiri adalah termasuk perbuatan orang-orang jahiliyyah (zaman kebodohan) yang mana perilaku ini dapat merusak persaudaraan antar sesama umat, terkhususnya umat muslim. Dan sebaliknya menghina suku yang tidak satu blok dengan suku kita juga merupakan perbuatan yang Allah Azza wa Jalla benci karena kedua hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan antar golongan yang bahkan menyebabkan pertumpahan darah di muka bumi ini.

Inti dari tulisan saya ini adalah, marilah kita berhenti memandang seseorang dari identitas kesukuannya atau hal lainnya. Kita bukan lagi hidup di zaman kebodohan, Agama Islam telah menjadi sarana sebagai alat mediasi antar umat manusia untuk melakukan hubungan antar sesama manusia dan hubungan terhadap keyakinan kepada Allah azza wa jalla. 

Sekian. Wassalam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s