Merantau

Saya masih ingat betul, di hari Minggu di bulan Januari itu, saya berbincang-bincang dengan kerabat saya yang berasal dari Jawa Barat. Dia pernah mengambil keputusan yang sangat tepat, Atas Izin Allah Azza wa Jalla, dengan menikah di usia yang belia (sekitar 18 tahun) dan merantau bersama suaminya ke Kota Pekanbaru. Kini mereka berdua ada seorang wirausahawan yang handal dibidangnya. Perjalanan hidup mereka penuh dengan lika-liku, namun dihadapi dengan semangat perjuangan hidup.

“Angel, kamu mau lanjut kemana tamat sekolah ini ?”, tanya beliau dengan antusias. “Angel belum tahu, buk….”, jawaban yang sangat riskan. Beliau langsung merespon dengan terheran-heran. “Kok belum tahu, arahnya kemana ? Harus tahu dong… Kalau bisa kuliahnya yang jauh, pergi ke Jawa sana sekolah… biar mandiri… masalah restu orang tua, siapa sih yang gak mau anaknya jadi orang yang sukses… Udah terbukti banyak yang “jadi” setelah merantau”. Aku masih bimbang, belum menjawab. Sepertinya Ibu itu masih berusaha untuk meyakinkan saya. “Ayo Ngel, jangan di Pekanbaru -Pekanbaru mulu… Merantau, belajar…”.

Sungguh keputusan yang berat. Karena yang jadi tokoh utamanya, adalah diri sendiri. Kita yang pegang kendali, disamping Allah azza wa jalla yang menentukan keputusan akhirnya dan orang tua kita sebagai pemberi restunya. 

Sehari setelah perbincangan itu, aku mulai melupakan pikiran-pikiran mengganggu itu dan menjalani kehidupan seperti biasa. Aku mulai larut seiring dengan ujian-ujian di sekolah yang menghampiri, frequently. 

4 bulan kemudian, tepatnya di bulan Mei. Takdir Allah menggiringku untuk mengunjungi sebuah website yang berisi tentang kisah pelajar yang sukses berusaha untuk merantau. Entah mengapa semenjak membaca artikel tersebut, wacana yang awalnya tak kuanggap menarik, bahkan untuk terbesit saja dipikiran ini rasanya enggan, sukses mencuci otak dalam sekejap. Aku mulai bimbang lagi….

Sampai akhirnya aku membaca artikel dibawah ini :

(Diambil dari Yufid Search Engine)


Imam asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar yang terkenal dengan kecerdasan dan kata-kata mutiara yang penuh hikmah. Buktinya, beliau mampu menyusun kata-kata mutiara yang mendalam dalam bait-bait syair. Syair-syair beliau dibukukan dan dinamai Diwan asy-Syafi’i.

Di antara syair beliau yang sangat baik kita renungkan maknanya adalah nasihat beliau agar seseorang merantau, meninggalkan zona nyamannya menuju wilayah baru, suasana baru, pengalaman baru, dan berkenalan dengan orang-orang baru pula. Nasihat tersebut disusun dalam bait syair berikut ini…

مَا فِي المُقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ                                مِنْ رَاحَةٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ                            وَانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ                             إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

وَالأُسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الأَرْضِ مَا افْتَرَسَتْ                     وَالسَّهْمُ لَوْلَا فِرَاقُ القَوْسِ لَمْ يُصِبْ

وَالشَّمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فِي الفُلْكِ دَائِمَةً                      لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

وَالتُرْبُ كَالتُرْبِ مُلْقًى فِي أَمَاكِنِهِ                         وَالعُوْدُ فِي أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنْ الحَطَبِ

فَإِنْ تَغَرَّبَ هَذَا عَزَّ مَطْلُبُهُ                                        وَإِنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كَالذَّهَبِ

#-Merantaulah…-

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).#

#Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.#

#Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.#

#Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.#

#Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.#

#Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.#

#Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.#

———————————————————————————————-
Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)
———————————————————————————————-

Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39

Artikel http://www.KisahMuslim.com



Read more http://kisahmuslim.com/4262-motivasi-merantau-dari-imam-asy-syafii.html

Aku percaya akan janji Allah Azza wa Jalla kepada hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa memohon kepadanya. Aku beriman kepada Allah yang Maha Berkehendak. Telah kuserahkan segala urusan hidupku hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Maha Tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. 

Intinya, jangan pernah berjalan sendirian. Selalu sertakan Allah Azza wa Jalla dalam setiap tindakan yang kita lakukan dalam hidup kita. Percayalah, iman yang kokoh Insyaa Allah akan menggiring kita kepada akhir kehidupan yang terbaik, sesuai dengan rancangan Allah Azza wa Jalla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s